Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 November 2015

BERSYUKUR

RENUNGAN UNTUK DIRI SENDIRI...

Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolf Merckle, orang terkaya dari jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api.

Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentunya Michael Jackson, penyanyi terkenal di USA, tidak akan meminum obat tidur hingga overdosis.

Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, tentunya G. Vargas, presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya.

Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia, tentunya Marilyn Monroe, artis cantik dari usa, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga overdosis.

Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia, tentunya Thierry Costa, dokter terkenal dari Perancis, tidak akan bunuh diri, akibat sebuah acara di televisi.

Ternyata, bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, bukan ditentukan oleh seberapa kayanya, tenarnya, cantiknya, kuasanya, sehatnya atau sesukses apapun hidupnya.

Tapi yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri... mampukah ia mau mensyukuri semua yang sudah dimilikinya dalam segala hal.

"Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu. dan kita akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena sudah diborong oleh mereka."

"Kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti belahan lain di bumi ini akan kosong karena semua orang akan ke sana berkumpul di mana kebahagiaan itu berada."

Untungnya kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia. Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi mencari kebahagiaan itu.

Yang kita perlukan adalah HATI yang BERSIH dan IKHLAS serta PIKIRAN yang JERNIH, maka kita bisa menciptakan rasa BAHAGIA itu kapan pun, di manapun dan dengan kondisi apapun."

KEBAHAGiAAN itu milik "Orang-orang yang pandai BERSYUKUR".

"JIKA KAMU TIDAK MEMILIKI APA YANG KAMU SUKAI, MAKA SUKAILAH APA YG KAMU MILIKI SAAT INI..."

Ya Robb..., bimbing dan mampukan kami utk bisa menSYUKURI setiap karunia yg Engkau berikan kepadaku... dan masukkan kami ke dalam golongan hamba-MU yg pandai berSYUKUR... Aamiin...

Semoga bermanfaat...

AKU BELAJAR

Aku belajar lebih banyak diam
drpd lbh banyak bicara...
Aku belajar bersabar
dari sebuah kemarahan...
Aku belajar mengalah
dari sebuah keegoisan...
Aku belajar tersenyum
dari suatu kesedihan....
Aku belajar tegar dari suatu kehilangan...

Hidup adalah BELAJAR.....
Belajar bersyukur meski tak puas...
Belajar ikhlas meski tak rela....
Belajar taat meski berat...
Belajar memahami meski tak sehati...
Belajar sabar meski terbebani...
Belajar memberi meski tak seberapa...
Belajar mengasihi meski tersakiti....
Belajar tenang meski gelisah....
Belajar percaya meski susah....
Belajar tabah meski cobaan menerpa...

Aku belajar....
bahwa tidak selamanya hidup ini indah, kadang...
ALLAH menyapaku melalui derita.
Tetapi aku tahu, bahwa IA tidak pernah meninggalkanku, sebab itu...  aku belajar menikmati hidup dengan bersyukur.

Aku belajar....
bahwa tidak semua yang aku harapkan akan menjadi kenyataan,
kadang... ALLAH membelokkan rencanaku.
Tetapi aku tahu bahwa itu lebih baik dari yang kurencanakan,
sebab itu... aku belajar menerima semua itu dengan sukacita.

Aku belajar....
bahwa cobaan itu pasti datang dalam hidupku.
Aku tak mau dipengaruhi setan utk marah dan emosi, aku tak mau menyalahkan orang lain, Juga tidak mungkin berkata "tidak adil ALLAH". Karena aku tahu bahwa semua itu tidak akan melampaui kekuatanku, sebab itu aku belajar menghadapinya dengan sabar.

Aku belajar....
bahwa tidak ada kejadian yang harus disesali & ditangisi,
karena.... semua rancanganNYA indah bagiku. Maka dari itu..
aku belajar bersabar, bersyukur & bersukacita dalam segala perkara. Karena semua itu menyehatkan jiwa dan menyegarkan hidupku...

Saudaraku...
• Ketika "Kaki" Sudah tak kuat berdiri... "BERSIMPUHLAH".

• Ketika "Tangan" sudah tak kuat menggenggam... "LIPATLAH"

• Ketika "Kepala" sudah tak kuat ditegakkan... "MENUNDUKLAH"

• Ketika "Hati" sudah tak kuat menahan kesedihan... "MENANGISLAH.

• Ketika "Hidup" sudah tak mampu untuk dihadapi... "BERDOALAH"

ALLAH selalu setia bersama kita... dan apa saja yang kamu minta dalam DOA dengan penuh keyakinan, pasti Ia akan menerimanya...

ALLAH mendengar Lebih dari yang kau katakan...

ALLAH menjawab Lebih dari yang kau minta...

ALLAH memberi Lebih dari yg kau inginkan... Karena... di belakangmu ada kekuatan yang tak terhingga... di hadapanmu ada kemungkinan tanpa batas... di sekitarmu ada kesempatan yang tiada akhir...

Lebih dari itu, di atasmu ada ALLAH yang selalu menyertaimu... Ingatlah saudara-ku tercinta... Cinta ALLAH padamu abadi, seperti lingkaran, tak berawal & tak berakhir...

Selasa, 11 Agustus 2015

Ilustrasi Dialog Tanggung Jawab Akhirat di Bawah Naungan Takdir Baik-Buruk Dari Allah

RENUNGAN MENJELANG SORE...

Ilustrasi Dialog Tanggung Jawab Akhirat di Bawah Naungan Takdir Baik-Buruk Dari Allah

Rizaly Dahlan: takdir itu ada 2 : muallaq dan mubram, takdir itu sudah ditentukan secara garis besarnya dan dapat berubah tergantung usaha dan doa, juga sedekah

Sinar Agama: Rizali:

Antum mau lari kemana, tetap saja takdir ini tdk ada. Karena kalau ada orang yg mau tetap melakukan yg mu’allaq, terus siapa yg bertanggung jawab??? Misalnya ada orang ditakdirkan mu'allaq bhw ia akan berzina oleh Allah, artinya dia bisa merubahnya kalau dia mau dalam arti berusaha dan berdoa. Tp dia tdk mau, lalu siapa yg bertanggung jawab pada zinanya?

Kalau dia nanti ditanya malaikat:

“Mengapa kamu berzina?”

Dia akan menjawab:

“Karena sdh ditentukan Allah”

Kalau ketentuannya mubram/pasti, malaikat akan berkata:

“Ok, kalau begitu kamu ke surga, karena kamu hanya melakukan ketentuanNya”

Sampai disini, hasil tanya jawab itu, sdh bertentangan dg Islam, karena penzina adalah dosa dan akan disiksa.

Tapi kalau ketentuannya itu tdk mubram (tidak pasti), alias bisa dirubah dg usaha dan doa, mk malaikat akan bertanya:

“Kan ketentuannya tdk mubram dan kamu bisa berusahadan berdoa untuk tdk zina kan???”

Dia akan menjawab:

“Yah .. malaikat, ana lebih senang melakukan yg telah ditentukanNya. Kalau Allah marah padaku karena aku melakukan ketentuanNya ini, mk mengapa Ia tdk marah pada DiriNya yg menentukanku spt itu? Lagi pula, kalau aku tdk ditentukan berusaha dan berdoa olehNya, mk bagaimana aku bisa berusaha dan berdoa??”

Malaikat akan menjawab:

“Bener juga kamu, ok, silahkan masuk surga”

Dari hasil ilustrasi yg sangat mungkin dan merupakan konsekwensi dari keyakinan pada ketantuan takdir baik-buruk dari Allah yg diartikan ketentuan nasib spt di Masehi dan Budha ini, hasilnya akan menggambarkan masuknya semua pendosa ke surga dan, hal ini jelas bertentangan dg ajaran agama Islam. Karena itu, keyakinan ini dimana dipasang hanya oleh satu orang yg bernama Asy’ari ini, yg diikuti mayoritas muslimin sampai ke wahabinya ini, harus dipikirkan lagi dan sdh semestinya ia untuk dipertimbangkan kembali sebagai kepercayaan.

Kemudian, perkataan bhw kita ini sdh ditentukan secara garis besarnya saja, sangat bertentangan dg dalil2 yg menjadi acuan dari pemasangan keimanan pada takdir baik-buruk dari Allah ini dimana salah satu dalil ayatnya adalah ttg kitab lauhu al-mahfuuzh yg jangankan detail2 perbuatan manusia, daun kering yg jatuh juga sdh ditentukan olehNya.

Asal masalah:
Saya sdh sering menjelaskan bhw lahiriah2 Naql yg spt menjurus ke ketentuan nasib ini, sebenarnya dipaksakan oleh orang spt Asy’ari dan sebangsaanya. Hal itu disebabkan ketika pahamannya terhadap Naql tsb (Qur an-Hadits) ini salah. Dan kesalahan ini, memang sdh dihembuskan sejak2 awal, spt oleh Umar ketika ia lari perang Uhud ketika ditanya wanita2 madinah mengapa ia lari meninggalkan Nabi saw di medan tempur sendirian, iapun berkata “Karena takdir Allah”.

Begitu pula penghembusan2 ini diterus teruskan oleh bani Umayyah yg membuat kerajaan dlm Islam dan membuat berbagai peperangan dan pembunuhan demi kekuasaan dimana cucunda Nabi saw spt imam Hasan as diracunnya, imam Husain as dibantainya hingga kepalanya yg sdh dipisahkan dari badannyai tu dijadikan mainan bahkan di pesta kemenangannya yazib bin mu’awiyyah, imam Ali bin Husan bin Ali bin Abi Thaalib as jg dibunuhnya ……… dst. Penghembusan ini, tdk lain hanya untuk mengokohkan kerajaannya. Karena itu mereka mengakatakan bhw kekuasaan yg ada di tangan mereka itu adalah takdir mereka dari Allah, dan derita muslimin yg diderita karena mereka itu, juga merupakan takdir kaum muslimin itu sendiri dari Allah.

Artinya, tdk ada satu orangpun yg berhak protes dan apalagi revolusi terhadap kekuasaan mereka dg alasan apapun, karena semuanya itu sdh sesuai dg yg ditakdirkan Allah.

Kunci Pemecahan :
Saya jg sering mengatakan bhw konci masalahnya untuk memecahkan masalah ini, adalah dg melihat:

1- Tidak ada di Qur an yg mengajarkan spt itu. Justru Allah mengatakan bhw satu atom saja perbuatan baik dan buruk itu, akan dihisab. Disini, Allah tdk mengatakan “Siapa yg dibuat Allah berbuat satu atom kebaikan/keburukan, mk ia akan melihatnya -dimintai tanggung jawab”, akan tetapi Allah mengatakan (secara maksud): “Siapa yg berbuat satu atom kebaikan dan keburukan, mk ia akan melihatnya -dimintai tanggung jawab”.

Jadi, ayat ini dg tegas menolkan kepercayaan kepada ketentuan nasib mansuia itu. Dan, kepercayaan ini, tdk bisa dipoles dg berusaha dan doa, karena keduanya memerlukan kepada takdir juga. Belum lagi takdir ttg diterima atau tdknya doa tsb, dan takdir sukses tdk-nya usaha tsb.

2- Kalau kita perhatikan ttg ayat yg menerangkan ttg kitab luahu al-mahfuuzh, maka kita tahu bhw ia adalah kitab ilmu, bukan kitab ketentuan. Allah dlm QS: 6: 59, berfirman:

ﻭَﻋِﻨْﺪَﻩُ ﻣَﻔَﺎﺗِﺢُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻬَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﻭَﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﺎ ﻓِﻲﺍﻟْﺒَﺮِّ ﻭَﺍﻟْﺒَﺤْﺮِ ﻭَﻣَﺎ ﺗَﺴْﻘُﻂُ ﻣِﻦْ ﻭَﺭَﻗَﺔٍ ﺇِﻟَّﺎ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻬَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺣَﺒَّﺔٍ ﻓِﻲ ﻇُﻠُﻤَﺎﺕِﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻟَﺎ ﺭَﻃْﺐٍ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺎﺑِﺲٍ ﺇِﻟَّﺎ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺏٍ ﻣُﺒِﻴﻦٍ

“Dan Ia -Allah- memiliki kunci2 keghaiban yg tdk diketahuinya kecuali DiriNya sendiri. Dan Ia tahu apa2 yg ada di daratan dan lautan dan tidak jatuh dari sebuah daun kecuali Ia mengetahuinya, dan tdk satu bijipun di malamnya bumi dan tdk yg basah dan tdk yg kering, kecuali ada di dalam kitab yg jelas/agung (lauhu al -mahfuuzh).”

Nah, kalau kita tdk teliti karena sdh diwarisi keharusan beriman pada takdir Allah itu, maka potongan ayat terakhir di atas itu “….kecuali ada di kitab yg jelas/agung”, akan dimaknai dengan:

“…..KECUALI SDH DITULIS DI KITAB YG AGUNG” , atau:

“…….KECUALI SDH DITENTUKAN/DITAKDIRKAN DI KITAB YG AGUNG.”

Padahal, kalau kita mengosongkan diri dulu dari segala pahaman2 yg diwariskan turun temurun itu, mk kita akan jelas melihat permasalah di ayat tsb dan akan dg mudah bhw yg dimaksudkan dg Kitab yg Jelas atau agung itu, adalah kunci2 keghaiban atau yg mengetahui apa saja yg sudah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi. JADI, KITAB YG JELAS/AGUNG ITU, ADALAH KITAB YG MENGETAHUI SEMUA KEJADIAN TERMASUK PILIHAN2 DAN IKHTIAR2 MANUSIA SAMPAI KEPADA USAHA DAN DOANYA …DST SAMPAI KEPADA MASUK SURGA DAN NERAKANYA.

3- Dengan penjelasan2 di atas itu, maka kalaulah ada lagi yg menyebutkan takdir mubram dan tdk ini, dpt dipahami dg tanpa harus menentang ayat2 dan riwayat2 serta akal yg gamblang. Yaitu dg mengatakan bhw yg dimaksudkan adalah ilmu. Yakni ilmu pasti dan tdk pasti. Artinya, di tingkatakan ilmu yg berada di tingkatan qadha dan qadr, yaitu yg diemban oleh para malaikat yg berada di tingkatan ini, ilmu mereka ttg pilihan dan hasil2 konsekwensinya, sdh diketahui oleh malaikat. Misalnya sebagiannya sdh diketahui bhw si fulan yg memilih zina dg ikhtiarnya itu, mmk mustahil bertaubat karena ini dan itu, tp si fulan yg lain itu yg jg memilih zina dg ikhtiarnya sendiri itu, ia akan taubat karena ini dan itu. Itulah mengapa Allah di ayat yg lain mengatakan bhw:

“Ia -Allah- menghapus yg dikehendaki dan menetapkan” (QS: 13: 39).

Artinya, yang tadinya diketahui zina dg ikhtiarnya sendiri dan tdk akan bertaubat dg ikhtiarnya sendiri juga, mk dosa dan ketentuan masuk nerakanya akan ditulis
untuknya dan apa2 yg ditulis untuknya ini, akan ditetapkan selamanya (mubaram/pasti). Sedang yg akan bertaubat dg ikhtiarnya sendiri, mk dosanya dan ketantuan masuk nerakanya, akan digantungkan dulu (mu’allaq) dan kalau nanti sdh taubat, dosa dan ketentuan masuk nerakanya itu, akan dihapus dg
perintah dan ijinNya (menghapus yg dikehendaki).

Pemahaman spt ini, dpt diambil dari berbagai keterangan Qur an, hadits2 dan akal gamblang dan, sdh tentu pemahaman spt ini, tdk bertentangan dg ajaran agama itu sendiri. Karena sekali lagi, kalau semuanya sdh ditentukan, mk buat apa diturunkan agama dan kewajiban menaatinya?

sumber net.com